Postingan

Oke, Let's Start it !

Bismillah. Blog ini akan kembali difungsikan sebagai cloud buat menyimpan ragam cerita. Kepengen banget punya satu alat yang bisa mendokumentasikan perjalanan dengan peran yang juga beragam. Mulai menjadi seorang Suami yang ambisi banget pengen dapet prediket the Best Husband di mata istri, lanjut menjadi seorang Ayah yang ambisi banget pengen dapet predikat the Best Father di mata anak-anak, The Best Son, The Best Brother dan The Best-The Best lainnya. Kalau ngelihat ke belakang, lumayan jauh juga perjalanan yang udah ditempuh..... (bersambung dulu)

Menjadi Terbaik atau Menjadi Baik

Ada banyak capaian yang lagi dipengen. Mulai dari memenuhi keinginan keluarga kecil, keinginan pribadi, keinginan keluarga di kampung, tugas-tugas kantor, ingin punya karya, ingin punya gebrakan, dan ingin-ingin lainnya. Kalo dipikir-pikir, tiap hari dikejar terus dengan keinginan-keinginan seperti ini. Pengen sampe di titik, bahwa ini semua adalah bentuk progres hidup. Capek juga ternyata menjadi manusia.. Yang punya banyak pengennya aja.. Tapi males buat ngelakuin buat mencapainya.. Ha ****-----***** Belakangan mulai males baca buku, males ngembangin diri, males bangun habit positif, ke-distrak banget sama sosial media. Kalo ditanya, tentang apa yg ada di pikiran saya sekarang Tentang menjadi yang terbaik di kantor Pengen liburan yang bener2 berkesan bareng keluarga kecil Pengen ngaktifin podcast kembali sebagai salah satu media agar tetap terus berkarya Pengen punya chanel yutub buat sharing dgn temen2 ***---*** Pertanyaannya yang paling penting dijawab adalah. Apa mungkin saya menj...

"HATI HATI DENGAN KONSEP TAARUF" (Klikbait)

Gambar
Baiklah, mungkin ini agak random. Udah lama tidak menulis (lagi). Jadi mohon pemaklumannya jika rada berantakan. Gatel juga buat ngebahas trending topic 2 hari belakangan. Perihal selebritis yang menikah dadakan tanpa proses pendekatan yang panjang. Meskipun, ini sudah jadi kaidah mainstream di lingkungan saya. Saya sih memaklumi banyak yg merasa amaze jika nemu cerita pasangan menikah yang proses perkenalannya sangat singkat. Tidak mengenal pacaran atau apapun namanya. Sebagian menyebutnya ta'aruf. Sebagai pasangan yang masih sangat muda dan minim pengalaman. Tentu tulisan ini tidak bisa jadi dalil. Namun setidaknya buat bahan opini tambahan. Jika ada obrolan di tongkrongan yang membahas. Oke mari kita mulai. Bagi saya. Menikah itu bukan tujuan. Namun awal dari sebuah perjalanan. Perjalanan yang panjang. Dan butuh partner untuk saling menguatkan. Patokannya bukan waktu, untuk bisa dikatakan saling memahami di antara pasangan. Bukan jaminan, sudah puluhan tahun penjaj...

Cerita #2

Sore ini di tanggal 8 Juni 2020. Ayahmu sedang menunggu jam pulang kantor di ruang kerja. Di saat yang sama, Ayah sedang bertanya-tanya, kenapa Ibumu tidak mengirimkan pesan whatsapp siang ini, seperti yang ia lakukan di hari-hari sebelumnya? Memang, hanya menanyakan lagi apa ataupun memberikan kutipan semangat. Tapi, itu sudah menjadi teman istirahat siang Ayah beberapa bulan terakhir. Dan, hari ini, pesan itu belum kunjung masuk. Entahlah nak, bukan ayah bermaksud menuduh, tapi ayah hanya berfikir, Ibumu sedang berjuang berdamai dengan rasa mual dan pusing-pusing belakangan ini. Sebagai tanda bahwa kamu sedang berjuang juga di dalam rahimnya. Ya. Tepat 14 hari lalu, adalah hari berbahagia bagi kami Ayah dan Ibumu, nak. Pagi itu, Ayah masih terbaring di kasur. Sisa begadang semalam cukup membuat kantuk yang berat. Malam itu Ayah pulang ke kampung. Ibumu tidak ikut. Bukan karena tidak ingin. Tapi Ayah memang tidak membolehkan. Berkendara sepeda motor tidak baik untuk seorang Ib...

Cerita #1

Hari ini. Ahad, 7 Juni 2020. Aku putuskan untuk membuat cerita, tentang penantian kehadiran my baby. Harapannya. Ini bisa menjadi potret yang akan mendokumentasikan ceritaku bersama Han (My Wife) berjuang bersama, menanti kelahiran bayi kecil kita. Bismillah.

Quarter Life Crisis (Part 4)

Gambar
Sambungan topik QLC - part 4 Disclaimer: Quarter Life Crisis itu masa galau di usia 20an, katanya fase transisi si remaja menuju ke dewasa. ...Jadi, mumpung usia masih semuda itu. Manfaatin buat nyoba bikin sesuatu yang keren versi kamu. Resikonya belum segede itu. Jadi ga usah terlalu banyak was-was. Gagal mah biasa. Abis wisuda 2016 lalu. Saya nyobain banyak tempat kerja. Pindah-pindah. Sebulan dua bulan pindah. Sebulan dua bulan pindah. Begitu terus. Bahkan sampe 2 bulanan di Surabaya, 6 bulanan di Bekasi. Saya ga bisa bertahan lama di satu tempat. Ga siap. SuperGalau. Imajinasi makin liar. Gak terima ama ketidaknyamanan ruang kerja yang lagi dijalanin waktu itu. Jadinya ga seneng ngejalaninnya. Hari-hari jadi bosenin. Belakangan saya nyadar. Ternyata itu saya lagi di fase QLC (kayaknya). Ampe di satu titik, saya coba berkompromi. Jalanin sesuatu dengan sabar. Bikin something yang keren versi diri sendiri. Di tempat kerja jadi panggung berkarya. Bikin inovasi. Coret-...

Quarter Life Crisis (Part 3)

(Sambungan topik QLC - part 3) Kayaknya, salah satu kondisi yang bakal kita hadepin di fase quarter life crisis itu  adalah Gak Sabaran. Apalagi di era serba cepat sekarang. Kita jadi suka hal-hal yang instan. Ga peduli ama proses yang panjang, tapi lebih berorientasi pada hasil. Ya semirip di waktu kuliah. Kita ga begitu peduli ama seberapa banyak ilmu yang kita serap dari matkul itu, yang penting di portal kita dapet nilai A. Itu udah lebih dari cukup. Kadang, kita jadi ga ngenikmatin apa yang kita kerjain. Dan konsistensi jadi masalah yang rumit. Kita paling gak bisa buat konsisten. Boleh jadi, karena kita suka ngeliat contoh yang ada di timeline sosmed. Banyak muda-mudi yang udah pada sampe di fase keren mereka. Keliatan dari  apa yang dipamerin di sosmed. Keren dan udah kemana-mana. Kita jadi ngerasa kerdil. Tetiba kita jadi insecure. Ngerasa ga pedean. Mulai dihantam ama realitas hidup. Cita-cita masa lalu mulai mudar. Ganti ama diksi impian baru lainnya. Yan...